Sebanyak 15 peninggalan bersejarah Yunani yang berasal dari rentang waktu hampir 5.000 tahun akhirnya dipulangkan ke negara asalnya. Koleksi bernilai jutaan dolar ini menjadi bukti penting perjuangan melindungi warisan budaya dari perdagangan ilegal benda purbakala.
Yunani kembali mendapatkan bagian penting dari sejarah masa lalunya. Sebanyak 15 artefak kuno yang sebelumnya berada dalam koleksi Metropolitan Museum of Art di New York, Amerika Serikat, resmi diserahkan kembali kepada pemerintah Yunani pada September 2026.
Benda-benda bersejarah tersebut terdiri atas berbagai material, mulai dari perunggu, marmer, hingga tanah liat. Nilai keseluruhan koleksi diperkirakan mendekati 3 juta dolar AS.
Penyerahan artefak berlangsung di Manhattan pada 21 September 2026. Menteri Kebudayaan Yunani, Lina Mendoni, menerima langsung peninggalan tersebut dalam sebuah acara resmi yang turut melibatkan kantor kejaksaan distrik Manhattan.
Pemulangan ini merupakan bagian dari upaya penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal barang antik lintas negara. Sebelum dikembalikan, sejumlah artefak diketahui telah masuk ke Amerika Serikat melalui jalur penyelundupan dan diduga diperdagangkan menggunakan dokumen asal-usul yang tidak benar.
Koleksi Purbakala dengan Sejarah Ribuan Tahun
Kelima belas artefak yang dipulangkan memiliki latar belakang sejarah yang beragam. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari periode sekitar 2700 sebelum Masehi.
Salah satu benda tertua adalah patung kecil berbahan marmer yang menggambarkan sosok perempuan. Selain itu, terdapat pula bagian penutup marmer dari sebuah wadah berbentuk silinder.
Koleksi lainnya mencakup kendi keramik bercat yang diperkirakan berasal dari sekitar 1750 sebelum Masehi. Ada juga perhiasan emas dari periode Helenistik, gelang perunggu, serta sejumlah perlengkapan militer kuno.
Salah satu benda yang menarik perhatian adalah helm perunggu dengan hiasan ukiran yang rumit. Permukaannya menampilkan ornamen berupa hewan, bunga, dan figur manusia bersayap yang memegang ular.
Selain helm, terdapat tiga pelindung pinggang berbahan perunggu. Salah satu bagian memperlihatkan dua figur kuda yang dibuat berhadapan dan dilengkapi tulisan menggunakan aksara Yunani.
Berdasarkan keterangan Kementerian Kebudayaan Yunani, sejumlah perlengkapan militer tersebut diperkirakan berasal dari akhir abad ketujuh sebelum Masehi.
Jejak Penggalian Ilegal di Pulau Kreta
Sebagian benda dalam koleksi tersebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas penggalian ilegal yang pernah berlangsung di wilayah Heraklion, Pulau Kreta, pada 1964.
Penemuan benda-benda arkeologi dari kawasan tersebut seharusnya menjadi bagian dari penelitian dan pelestarian sejarah Yunani. Namun, aktivitas penggalian tanpa izin menyebabkan sejumlah peninggalan berpindah tangan dan dibawa keluar dari negara asalnya.
Pemulangan artefak kali ini menjadi semakin berarti karena beberapa benda dapat dipertemukan kembali dengan temuan lain yang berasal dari lokasi penggalian yang sama.
Pemerintah Yunani berharap benda-benda tersebut nantinya dapat memberikan gambaran sejarah yang lebih lengkap ketika disatukan dengan koleksi arkeologi yang sebelumnya telah ditemukan.
Patung Romawi Turut Menjadi Bagian dari Koleksi
Di antara peninggalan yang dikembalikan, terdapat pula sebuah patung dada marmer yang menggambarkan sosok laki-laki.
Berbeda dari sebagian besar koleksi lainnya, patung tersebut berasal dari periode Romawi, sekitar tahun 14 hingga 68 Masehi.
Patung itu menggambarkan konsep Genius Augusti, yaitu representasi roh pelindung atau kekuatan spiritual yang dikaitkan dengan seorang kaisar Romawi.
Keberadaan artefak ini memperlihatkan bahwa koleksi yang dipulangkan tidak hanya merepresentasikan satu periode kebudayaan, melainkan juga menggambarkan perkembangan sejarah kawasan Mediterania selama berabad-abad.
Upaya Internasional Menghentikan Perdagangan Artefak Ilegal
Pemulangan benda-benda kuno ke Yunani merupakan bagian dari operasi lebih luas yang dilakukan Unit Perdagangan Barang Antik Ilegal di Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan.
Matthew Bogdanos, pejabat yang memimpin unit tersebut, menyampaikan bahwa sejak 2011 timnya telah berhasil menemukan dan mengembalikan lebih dari 6.400 artefak kepada sekitar 40 negara.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 175 benda merupakan peninggalan milik Yunani. Nilai gabungan artefak Yunani yang berhasil dipulihkan diperkirakan mencapai 51,5 juta dolar AS.
Kasus ini juga bukan pertama kalinya Metropolitan Museum of Art menyerahkan koleksi yang diduga memiliki kaitan dengan perdagangan barang antik ilegal. Sejak 2017, berbagai artefak bernilai lebih dari 95 juta dolar AS telah ditarik dari koleksi museum tersebut untuk dikembalikan kepada negara asalnya.
Pihak museum sendiri menyatakan komitmennya untuk tidak menyimpan benda seni yang diketahui merupakan hasil pencurian. Mereka juga telah memperluas tim peneliti yang bertugas memeriksa riwayat kepemilikan setiap koleksi.
Mengapa Pengembalian Artefak Begitu Penting?
Bagi Yunani, pemulangan peninggalan kuno bukan hanya persoalan mengembalikan benda bernilai ekonomi. Lebih dari itu, proses tersebut berkaitan erat dengan identitas, sejarah, dan warisan kebudayaan yang menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa.
Setiap artefak menyimpan informasi mengenai kehidupan masyarakat pada zamannya, mulai dari teknologi pembuatan benda, kepercayaan, sistem pertahanan, hingga hubungan sosial dan budaya.
Ketika benda-benda tersebut diambil melalui penggalian ilegal atau perdagangan gelap, informasi mengenai konteks penemuannya berisiko hilang selamanya.
Karena itu, pengembalian 15 artefak ini menjadi pengingat bahwa warisan arkeologi tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai komoditas koleksi pribadi. Pelestariannya membutuhkan kerja sama internasional agar peninggalan masa lalu tetap dapat dipelajari dan dinikmati oleh generasi mendatang.

Make Comment
Your email address will not be published.
Comments 0